Kepemimpinan Pendidikan

PENDAHULUAN

Kepemimpinan merupakan bagian penting dari manajemen yaitu merencanakan dan mengorganisasi, tetapi peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini merupakan bukti bahwa pemimpin boleh jadi manajer yang lemah apabila perencanaannya jelek yang menyebabkan kelompok berjalan ke arah yang salah. Akibatnya walaupun dapat menggerakkan tim kerja, namun mereka tidak berjalan kearah pencapaian tujuan organisasi. Kepemimpinan berkaitan dengan proses yang mempengaruhi orang sehingga mereka mencapai sasaran dalam keadaan tertentu. Kepemimpinan telah digambarkan sebagai penyelesaian pekerjaan melalui orang atau kelompok dan kinerja manajer akan tergantung pada kemampuannya sebagai manajer. Hal ini berarti mampu mempengaruhi terhadap orang atau kelompok untuk mencapai hasil yang diinginkan dan ditetapkan bersama

a. Definisi Kepemimpinan

Ada banyak definisi mengenai kepemimpinan, beberapa diantaranya:

1. Kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan (George Terry).

2. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan kelompok (Stogdill).

3. Drs. Ngalim Purwanto berpendapat bahwa Kepemimpinan adalah tindakan/perbuatan di antara perseorangan dan kelompok yang menyebabkan baik orang seorang maupun kelompok maju ke arah tujuan-tujuan tertentu.

4. Menurut sumber dari seorang ahli yang mendefinisikan kepemimpinan, seperti: George R. Terry (1977 : 410 – 411), yang mengatakan bahwa:“Leadership is the relationship in which one person or the leader, influence other to work together willingly on related task to attain that which the leader desires”

5. Andrew Sikula (1992 : 117), yang mengatakan bahwa:“Leadership in an administration process that involves directing the affairs and actions of others”.

Kepemimpinan adalah kemampuan seni mempengaruhi tingkah laku manusia dan kemampuan untuk membimbing beberapa orang untuk mengkordinasikan dan mengarahkan dengan maksud dan tujuan tertentu. Untuk dapat menggerakkan beberapa orang pelaksana, seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dibandingkan orang yang dipimpinnya misalnya kelebihan dalam menggunakan pikirannya,  rohaniah, dan badaniah. Agar dapat menggunakan kelebihanya tersebut, seorang pemimpin suatu organisasi difasilitasi dengan apa yang disebut dengan tugas dan wewenang.

Tugas adalah kewajiban untuk melaksanakan dan wewenang adalah hak untuk bertindak.. Wewenang seorang pemimpin adalah hak untuk menggerakkan orang atau bawahannya supaya suka mengikutinya atau menjalankan tugas yang diperintah kepadanya. Kepengikutan timbul karena pemimpin mempunyai abhiga mika yaitu dapat menarik simpati dari orang lain, pradaya yaitu selalu bertindak bijaksana,; atma sampat yaitu bermoral dan berbudi pekerti yang luhur, Sakyasanmata, yaitu selalu bertindak teliti dan cermat

Sebagaimana telah diuraikan pada terdahulu, bahwa kepemimpinan merupakan salah satu kunci utama yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan efektivitas kerja dalam organisasi perusahaan. apabila pemimpin tidak dapat menjalankan dan mengkoordinir semua sumber daya yang ada di perusahaan maka akan menimbulkan masalah besar, karena dapat mengakibatkan sasaran yang telah ada ditetapkan perusahaan sulit untuk dicapai.

b. Gaya Kepemimpinan Efektif

Saya kutip dari pendapatnya Pak Onong, mari kita bahas mengenai yang namanya Gaya Kepemimpinan. Gaya Kepemimpinan sejatinya ada 3 (tiga) bentuk, yaitu:

  1. Otoriter (Authoritarian Leadership)

Seperti yang kita ketahui, bahwa kekuasaan otoriter gaya kepemimpinan berdasarkan pada kekuasaan yang mutlak dan penuh. Dengan kata lain, sang pemimpin yang dalam kepemimpinan ini disebut juga sebagai diktator, bertindak mengarahkan pikiran, perasaan dan prilaku orang lain kepada suatu tujuan yang telah ditetapkannya. Artinya segala ketentuan dan keputusan berada di tangan si pemimpin. David Krech, Richard S. Crutchfield, Egerton L. Ballachey, menggambarkan mengenai kepemimpinan ini: bahwa dalam suatu kelompok yang sangat kecil, antara pemimpin dan pengikut terjadi kontak pribadi karena komunikasi berlangsung secara interpersonal, namun ketika kelompok menjadi besar, maka hubungan antara pemimpin menjadi semakin jauh dan melalui peringkat peringkat. Organisasi hirarkis pada kelompok otoriter dapat dikaji sebagai konsekwensi dari tujuan si pemimpin untuk senantiasa memelihara posisinya sebagai kekuasaan sentral. Dan menurut David Krech, Richard S. Crutchfield, Egerton L. Ballachey, Suasana seperti ini kondusif untuk frustasi dan agresi serta meningkatnya ketegangan dan konflik intra kelompok.

  1. Demokratis (Democratic Leadership)

Yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya atau cara memimpin yang demokratis, dan bukan karena dipilihnya si pemimpin secara demokratis. Gaya yang demokratis seperti ini misalnya saja si pemimpin memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada para bawahan dan pengikutnya untuk mengemukakan pendapatnya, saran dan kritikkannya dan selalu berpegang pada nilai-nilai demokrasi pada umumnya.

  1. Kepemimpinan Bebas (Laisez Faire Leadership)

Dalam kepemimpinan jenis ini, sang pemimpin biasanya menunjukkan suatu gaya dan prilaku yang pasif dan juga seringkali menghindari dirinya dari tanggung jawab. Dalam prakteknya, Si pemimpin hanya menyerahkan dan menyediakan instrumen dan sumber-sumber yang diperlukan oleh anak buahnya untuk melaksanakan suatu pekerjaan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan pimpinan. Pimpinan yang memiliki gaya ini memang berada diantara anak buahnya, akan tetapi ia tidak memberikan motivasi, pengarahan dan petunjuk, dan segala pekerjaan diserahkan kepada anak buahnya. Itulah ketiga bentuk gaya kepemimpinan.  Termasuk yang manakah gaya kepemimpinan Anda?

Menurut Paul Hersey dan Ken. Blanchard, Terdapat 4 gaya kepemimpinan yaitu:

1. Memberitahukan, Menunjukkan, Memimpin, Menetapkan (TELLING-DIRECTING)

2. Menjual, Menjelaskan, Memperjelas, Membujuk (SELLING-COACHING)

3. Mengikutsertakan, memberi semangat, kerja sama (PARTICIPATING-SUPPORTING)

4. Mendelegasikan, Pengamatan, Mengawasi, Penyelesaian (DELEGATING)

Seorang pemimpin harus memahami kematangan bawahannya sehingga dia akan tidak salah dalam menerapkan gaya kepemimpinan. Tingkat kematangan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Tingkat kematangan M1 (Tidak mampu dan tidak ingin) maka gaya kepemimpinan yang diterapkan pemimpin untuk memimpin bawahan seperti ini adalah Gaya Telling (G1), yaitu dengan memberitahukan, menunjukkan, mengistruksikan secara spesifik.

2. Tingkat kematangan M2 (tidak mampu tetapi mau), untuk menghadapi bawahan seperti ini maka gaya yang diterapkan adalah Gaya Selling/Coaching, yaitu dengan Menjual, Menjelaskan, Memperjelas, Membujuk.

3. Tingkat kematangan M3 (mampu tetapi tidak mau/ragu-ragu) maka gaya pemimpin yang tepat untuk bawahan seperti ini adalah Gaya Partisipatif, yaitu Saling bertukar Ide & beri kesempatan untuk  mengambil keputusan.

4. Tingkat kematangan M4 (Mampu dan Mau) maka gaya kepemimpinan yang tepat adalah Delegating, mendelegasikan tugas dan wewenang dengan menerapkan system control yang baik.

Seperti yang dikutip dari Careerbuilder, gaya kepemimpinan atasan sangat berpengaruh pada semangat kerja para karyawan, karena hal ini memberikan dampak:

Motivasi
Gaya kepemimpinan sang atasan yang lemah lembut dan bijaksana serta mampu memberikan solusi yang tepat atas setiap permasalahan dapat memotivasi para anak buahnya untuk bekerja lebih giat lagi dalam menciptakan ide-ide kreatif yang lebih cemerlang. Karena seorang atasan yang handal mampu menciptkan kondisi perusahan menjadi kental dengan suasana kekeluargaan, bukan menciptakan persaingan yang tidak sehat antarpara karyawan.

Membantu mencapai target

Siraman motivasi yang diterima para karyawan pun dapat menimbulkan dampak positif lainnya bagi setiap karyawan. Hal ini terbukti, misalnya, dari terpenuhinya target penjualan per bulan, sehingga bisa menimbulkan keuntungan yang besar bagi perusahaan. Hal itu juga semakin membuat para karyawan percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki.

Memperbaiki Kinerja

Seorang atasan yang baik tahu kapan waktu yang tepat untuk mengambil keputusan yang penuh risiko dan melanjutkan ketahap selanjutnya. Ia mampu menjalankan program sesuai dengan rencananya. Terobosan seperti inilah yang akan mengubah kinerja para karyawan menjadi lebih produktif sehingga semakin semangat dalam bekerja. (jri)

Lippite dan Whyte, berpendapat ada 3 macam kepemimpinan:

1.       Kepemimpinan Otokrasi, artinya suatu bentuk kepemimpinan yang ditandai oleh:

a.              Ketentuan dibuat oleh pimpinan

b.             Setiap langkah diputuskan oleh pimpinan

c.              Pimpinan selalu memberikan tugas pada tiap anggota

d.             Pimpinan dapat memuji atau mencela pekerjaan anggota

2.       Kepemimpinan yang Demokratis, yakni suatu bentuk kepemimpinan yang ditandai oleh:

a.              Segala kegiatan kelompok dibicarakan dan didiskusikan bersama

b.             Anggota bebas bekerja dengan siapa saja

c.              Pimpinan memuji dan mencela anggota secara obyektif

d.             Pimpinan berusaha bersikap dan berbuat seperti anggota

3.       Kepemimpinan yang Liberal, artinya suatu kepemimpinan yang ditandai oleh:

a.       Pimpinan yang jarang ikut campur dalam kegiatan anggota

b.       Pimpinan menyiapkan kebutuhan bagi anggota

c.       Pembagian tugas dan kerja sama diserahkan anggota

d.      Pimpinan tidak memberi komentar selama kelompok melaksanakan kegiatan, kecuali diminta pendapatnya

Dari hasil penelitian mereka tentang gaya kepemimpinan didapatkan kesimpulan :

1.       Sikap Otoriter membawa pengaruh 2 hal pada anggota, yakni:

a.              Anggota kelompok menjadi apatis

b.             Anggota kelompok bersikap agresif pada pimpinan

2.       Sikap Demokratis membawa pengaruh antara lain :

a.              Ada kerukunan di antara anggota kelompok

b.             Para anggota banyak mengambil inisiatif

c.              Para anggota banyak bertanggung jawab

3.       Sikap Liberal membawa pengaruh:

a.              Para anggota bertanggung jawab besar

b.             Hubungan antara anggota kurang

c.              Ada suasana pertentangan antar anggota kelompok

Bagaimana cara kita memimpin haruslah dipengaruhi oleh kematangan orang yang kita pimpin supaya tenaga kepemimpinan kita efektif dan juga pencapaian hasil optimal.

Tidak banyak orang yang lahir sebagai pemimpin. Pemimpin lebih banyak ada dan handal karena dilatihkan. Artinya untuk menjadi pemimpin yang baik haruslah mengalami trial and error dalam menerapkan gaya kepemimpinan.

Pemimpin tidak akan pernah ada tanpa bawahan dan bawahan juga tidak akan ada tanpa pemimpin. Kedua komponen dalam organisasi ini merupakan sinergi dalam perusahaan dalam rangka mencapai tujuan. Paul Hersey dan Ken Blanchard telah mencoba melepar idenya tentang kepemimpinan situasional yang sangat praktis untuk diterapkan oleh pemimpin apa saja. Tentu masih banyak teori kepemimpinan lain yang baik untuk dipelajari. Dari Hersey dan Blanchard, orang tahu kalau untuk menjadi pemimpin tidaklah cukup hanya pintar dari segi kognitif saja tetapi lebih dari itu juga harus matang secara emosional. Pemimpin harus mengetahui atau mengenal bawahan, entah itu kematangan kecakapannya ataupun kemauan/kesediaannya.

Dengan mengenal type bawahan (kematangan dan kesediaan) maka seorang pemimpin akan dapat memakai gaya kepemimpinan yang sesuai. Sayangnya jaman sekarang banyak pemimpin yang suka main kuasa saja tanpa mempedulikan bawahan. Kalaupun mempedulikan bawahan itupun karena ada motif tertentu seperti nepotisme.

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki jiwa sebagai pemimpin sejak lahir, namun perkembangan lingkungan dan kedewasaan dalam bersosialisasi dapat mempengaruhinya, apakah. dapat berkembang atau bahkan hilang sama sekali. Dalam kaitannya dengan hal ini, sebelum kita mengklasifikasikan gaya kepemimpinan seperti pada judul diatas, maka saya akan mengulas sedikit mengenai faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kepemimpinan / leadership

Dalam suatu kelompok dalam masyarakat, seperti organisasi konvensional / modern, perusahaan atau instansi maka sudah pasti ada seseorang yang bertindak sebagai pemimpin, misalnya dalam organisasi politik ada Ketua Umum, dalam organisasi perusahaan ada Administrator / manajer, dalam sebuah kelas ada Ketua Kelas, pada Universitas ada Rektor dan lain sebagainya. Dengan adanya pemimpin, sudah pasti pula ada pengikutnya, akan tetapi, pengikut tidak sama dengan bawahan atau anak buah. Misalnya dalam sebuah partai politik tidak dapat dikatakan sebagai anak buah atau bawahan, akan tetapi lebih tepat kalau disebut pengikut, simpatisan atau kader, dikatakan demikian karena pengikut umumnya dengan sendirinya telah memberikan kepercayaan penuh kepada sang Ketua Umum atas ideologi dan tindakannya. Pada sebuah struktur organisasi formal, misalnya suatu perusahaan, lazim disebut karyawan / pegawai / bawahan / anak buah, dan disini, anak buah mau atau tidak mau, suka atau tidak suka harus tunduk dengan sang administrator / manajer dan hubungan antaranya biasanya hanya sebatas pekerjaan. Namun dalam suatu perusahaan juga dimungkinkan terdapat kepengikutan seperti halnya pada partai politik yang dapat diukur dari tingkat loyalitas anak buah kepada atasannya. Dan hal ini bergantung apakah administrator / manajer / pimpinan yang bersangkutan memiliki sifat kepemimpinan atau tidak.

c. Kekuasaan dan Pengaruh

Kekuasaan dapat didefinisikan sebagai suatu potensi pengaruh dari seorang pemimpin. Kekuasaan seringkali dipergunakan silih berganti dengan istilah pengaruh dan otoritas.

Berbagai sumber dan jenis kekuasaan dari beberapa teoritikus seperti French dan Raven, Amitai Etzioni, Kenneth W. Thomas, Organ dan Bateman, dan Stepen P Robbins telah dikemukakan dalam kegiatan belajar ini.

Kekuasaan merupakan sesuatu yang dinamis sesuai dengan kondisi yang berubah dan tindakan-tindakan para pengikut. Berkaitan dengan hal ini telah dikemukakan social exchange theory, strategic contingency theory dan proses-proses politis sebagai usaha untuk mempertahankan, melindungi dan me-ningkatkan kekuasaan.

Sebagai unsur pokok kepemimpinan, kekuatan dan pengaruh seorang pemimpin merupakan aspek yang paling krusial yang menjadi barometer keberhasilan kepemimpinannya. Merujuk kepada kamus besar bahasa Indonesia (Balai Pustaka ;1988), kekuatan adalah tenaga, gaya atau kekuasaan. Sedangkan pengaruh adalah daya yang timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.

Titik perhatian yang timbul dalam pikiran adalah menyakut kekuasaan. Dengan kekuasaan yang sejalan dengan peran dalam jabatan, seseorang dapat memerintahkan seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas yang dibebankan kepadanya untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Jadi bagaimanapun kekuasaan adalah kapasitas yang menyebabkan perubahan. Sebaliknya pengaruhnya adalah terkait dengan tingkat perubahan sesebenarnya dalam target seseorang kedalam sikap, nilai, kepercayaan atau perilaku. Pengaruhnya dapat diukur oleh perilaku atau sikap yang dimanifestasikan oleh para pengikut sebagai hasil dari pimpinannya.

Sejalan pikiran tersebut diatas, maka titik pusat pikiran akan terarah pula pada kekuasaan dan kepemimpinan, oleh karenanya tidak terlepas untuk memahami mengenai sumber kekuasaan pemimpin dan motip-motip pemimpin. Dengan pikiran itu pula, perlu untuk memahami yang berkaitan dengan taktik-taktik mempengaruhi yang disebut dengan 1) persuasi rasional ; 2) meminta inspirasi ; 3) konsultasi ; 4) intergrasi ; 5) permohonan 6) pertukaran ; 7) koalisi ; menekan ; 9) legimitasi.

Dengan demikian kekuatan (dalam konteks kepemimpinan pendidikan) adalah daya yang ditimbulkan seorang pemimpin dalam otoritasnya pada kepemimpinan pendidikaan. Sedangkan pengaruh merupakan representasi dan kekuatan yang dapat membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan anggota dalam mewujudkan situasi atau iklim kerja sama dalam kepemimpinan pendidikan.

Pengaruh sebagai inti dari kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk mengubah sikap, perilaku orang atau kelompok dengan cara-cara yang spesifik. Seorang pemimpin yang efektif tidak hanya cukup memiliki kekuasaan, tetapi perlu pula mengkaji proses-proses mempengaruhi yang timbal balik yang terjadi antara pemimpin dengan yang dipimpin.

Dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, seorang pemimpin pendidikan dipengaruhi oleh factor-faktor yang mewarnai pola kepemimpinan, diantaranya ;

1. Factor legal

Pemimpin pendidikan akan berhadapan dengan peratuan-peraturan formal dari instansi sturuktural yang berada diatasnya. Misalnya falsafat pancasila, undang undang 1945, Keputusan President, keputusan menteri, serta undang-undang lainnya akan mempengaruhi pola kepemimpinan pendidikan. Demikian pula dalam kaitannya dengan standar yang berkaitan dengan pengangkatannya sebagai pemimpin pendidikan (Mis; Sertifikasi, Pola penyeleksian, Kualifikasi Professional).

2. Kondisi Social Ekonomi dan Konsep-Konsep Pendidikan.

Factor ini memungkinkan tersedianya sumber-sumber dan fasilitas pendidikan dalam memperlancar proses pendidikan termasuk pemahaman pemimpin terhadap tujuan pendidikan yang akan mewarnai tindakan kepemimpinannya.

3. Hakekat dan Ciri Sekolah

Merupakan factor yang berkaitan dengan ciri dan hakikat para staf, murid dan jenis sekolah, system administrasi, kurikulum dan pendekatan yang digunakan dalam system pendidikan.

4. Kepribadian Pemimpin Pendidikan dan Latihan-Latihan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa individu (pemimpin) membawa sesuatu dalam jabatannya. Energy, loyalitas, paradigma dan atribut professional yang melekat padanya akan berpengaruh terhadap system kepemimpinan. Selain itu, pendidikn tambahan dan latihan-latihan juga akan memperkaya jabatan kepemimpinannya.

5. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam teori pendidikan.

Tugas kepemimpinan pendidikan dipengaruhi oleh berbagai perubahan teori dan metode aktifitas belajar, konsep-konsep pertumbuhan dan perkembangan anak membawa implikasi terhadap prosedur pengajaran dikelas. Prubahan dan perkembangan kurikulum juga menghendaki persiapan kepemimpinan dan keterampilan kepemimpinan yang baru. Perubahan dalam teori-teori pendidikan akan mengubah strategi pengelolaan dan kepemimpinan.

Dalam kaitan dengan kekuasaan, para pemimpin membutuhkan kekuasaan tertentu agar efektif. Keberhasilan pemimpin sangat tergantung pada cara penggunaan kekuasaan. Pemimpin yang efektif kemungkinan akan menggunakan kekuasaan dengan cara yang halus, hati-hati, meminimalisasi perbedaan status dan menghindari ancaman- ancaman terhadap rasa harga diri para pengikut.

Para teoretikus telah mengidentifikasi berbagai taktik mempengaruhi yang berbeda-beda seperti persuasi rasional, permintaan berinspirasi, pertukaran, tekanan, permintaan pribadi, menjilat, konsultasi, koalisi, dan taktik mengesahkan. Pilihan taktik mempengaruhi yang akan digunakan oleh seorang pemimpin dalam usaha mempengaruhi para pengikutnya tergantung pada beberapa aspek situasi tertentu. Pada umumnya, para pemimpin lebih sering menggunakan taktik-taktik mempengaruhi yang secara sosial dapat diterima, feasible, memungkinkan akan efektif untuk suatu sasaran tertentu, memungkinkan tidak membutuhkan banyak waktu, usaha atau biaya.

Dengan pemahaman diatas mengenai pengaruh atas taktik dan kekuasaan, maka dapat kita simpulkan untuk memahami pemimpin secara terfokuskan bahwa Sejalan dengan pemikiran diatas maka peramid kekuasaan dapat digambarkan sebagai model bagaimana mendapatkan kekuasaan melalui kekuatan dari prinsip 1) kepercayaan ; 2) menghargai ; 3) mengakui kesalahan.

Jadi bila model tersebut hendak diaplikasikan menjadi kekuatan pemimpin dengan kepemimpinannya untuk menuntun pengaruh karekter menjadi kekuasaan dan wewenang yang dapat mempengaruhi orang lain, maka ia harus ditopang dengan prinsip yang disebut 4) jelaskan apa yang menjadi tanggung jawab mereka ; 5) berikan wewenang yang seimbang dengan tanggung jawan mereka ; 6) rumuskan standard yang memuaskan ; 7) lengkapi mereka dengan pelatihan dan pengembangan agar mereka dapat memenuhi ketentuan standard ; berikan pengetahuan dan informasi ; 9) siapkan mereka dengan umpan balik atas kinerja mereka ; 10) tantang mereka dengan kemuliaan dan hormati.

Sejalan dengan pemahaman pengaruh dan kekuasaan maka diperlukan pemahaman yang mendalam hal-hal yang berkaitan dengan apa yang disebut dengan „Intelegensia dan Kreatifitas“ artinya dengan intelegensia maka pemimpin sesorang yang cerdas menjadi lebih baik sebagai pemecah masalah karena kemampuan berhubungan, akurat membuat asumsi, kemampuan analisa data dan yang lebih penting lagi kecerdasannya memandang keuntungan. Sedangkan kreatifitas dirumuskan sebagai kemampuan untuk membuat observasi atau melihat cara baru, yang kesemuanya ditunjang oleh pengalaman.

Dengan mendalami pengaruh dan kekuasaan serta intelegensia dan kreatifitas akan membuka jalan untuk memahami sebagai pemimpin untuk mengembangkan „personlitas“ yang akan membentuk „nilai dan sikap“ yang akan menuntun aktualisasi dari „perilaku kepemimpinan“ yang akan memberikan daya dorong bahwa peran pemimpin diperlukan penguasaan „ketreampilan dasar yang mencakup komunikasi, pendengar, keyakinan, kelengkapan umpan balik yang konstruktif, mengelola stress“

d. Pengelolaan Manusia

· Desain pekerjaan

Desain pekerjaan adalah fungsi penetapan kegiatan-kegiatan kerja seorng individu atau untuk kelompok karyawan secara organisaasional. Tujuannya adalah untuk mengatur penugasan-penugasan kerja yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisasi, teknologi dan keperilakuan.

· Analisis pekerjaan

Analisis pekerjaan mencangkup dua unsure, yaitu; uraian pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan. Uraian memperhatikan isi pekerjaan, tugas-tugas dan tanggung jawab. Spesifikasi menekankan kepada pengalaman, pendidikan dan keterampilan yang harus dimilikioleh jabatan atas pekerjaan itu

Ada beberpa elemen keperilakuan yang dipertimbangkan dalam desain pekerjaan, yaitu;

  • · Otonomi, tanggung jawab atas apa yang dilakukan
  • · Variasi, adanya kombinasi dalam bekerja agar tidak menjenuhkan dan membosankan
  • · Adentitas tugas, agar timbul kepuasan dalam bekerja
  • · Umpam balik, seberapa baik pelaksanaan pekerjaan, maka keryawan akan mempunyai pedoman atau motivasi untuk melaksanakan dengan lebih baik

· Pengelolaan (Manajemen) Sumber Daya Manusia

Manajemen adalah suatu seni mengatur orang lain guna mencapai suatu tujuan atau menyelesaiankan pekerjaan. Manajemen sumber daya manusia merupakan suatu proses yang terdiri dari;

  • 1. Perekrutan sumber daya manusia
  • 2. Seleksi sumber daya manusia
  • 3. Pemgembangan sumber daya manusia
  • 4. Pemeliharaan sumber daya manusia
  • 5. Penggunaan sumber daya manusia

· Tujuan sumber daya manusia

Tujuan utama dari manajemen sumber daya manusia adalah untuk meningkatkan kontribusi sumber daya manusia terhadap organisasi dalam rangka mencapai produktifitas organisasi yang bersangkutan.

· Fungsi-fungsi manajemen

Fungsi-fungsi Manajemen yang mencangkup:

1.             Planing (Perencanaan)

2.             Organizing and Staffing (Pengaturan dan Penyediaan Staf)

3.             Direction (Pengarahan)

4.             Controlling (Pengontrolan)

5.             Coordinating (Pengkoordinasian)

Fungsi oprasional yang terdiri dari;

· Pengadaan SDM,

· Pengembangan, konpensasi (imbalan),

· Integrasi,

· Pemeliharaan dan

· Pemutusan hubungan kerja.

e. Kepengikutan

Menurut Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A, dalam Psikologi Manajemen dan Administrasi (1989 : 169), kepengikutan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Kepengikutan Berdasarkan Naluri

Dalam klasifikasi ini, terjadinya kepengikutan pada sejumlah orang disebabkan timbulnya dorongan untuk menaruh kepercayaan kepada seseorang, sehingga mereka bersedia untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu yang dikehendaki orang yang memperoleh kepercayaan itu. Orang yang menerima kepercayaan itu diakui sebagai pemimpin karena dianggapnya mampu melindungi kepentingan atau mewujudkan aspirasi orang-orang yang menaruh kepercayaan tadi.Kepemimpinan dan kepengikutan jenis ini dinamakan kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership).

  1. Kepengikutan Berdasarkan Tradisi

Kepengikutan ini timbul disebabkan adanya kebiasaan secara turun menurun. Kepengikutan jenis ini terdapat baik dalam masyarakat skala besar seperti negara, maupun dalam skala kecil seperti desa. Dalam kepengikutan jenis ini, orang-orang yang menjadi pengikutnya tidak melakukan penilaian terhadap benar salahnya atau baik buruknya kebijakan yang dijalankan pemimpin.

  1. Kepengikutan Berdasarkan Agama

Para pengikut berdasarkan agama acapkali bersifat fanatik, berani mati, karena matinya itu demi Tuhan penguasa dunia akhirat. Khalayak yang menjadi pengikut pimpinannya berdasarkan agama menganggap bahwa pimpinannya itu adalah orang yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya, karena sebagai tokoh agama ia selain menguasai ketentuan-ketentuan agama mengenai apa yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, ia sendiri yang pertama-tama akan mematuhinya.

  1. Kepengikutan Berdasarkan Rasio

Kepengikutan ini dapat dijumpai di kalangan orang-orang terpelajar dalam suatu masyarakat. Mereka mengakui seseorang sebagai pimpinannya berdasarkan pertimbangan rasional, berlandaskan penalaran (reasoning).Biasanya, khalayak yang secara rasional mengakui seseorang sebagai pemimpinnya karena orang itu berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. Oleh karena itu, khalayak menganggap bahwa prilaku sang pemimpin itu didasari pemikiran yang matang dengan menyadari akibat prilakunya itu, serta mengetahui pula tindakan apa yang dijadikan antisipasi jika kegiatannya itu keliru

  1. Kepengikutan Berdasarkan Peraturan.

Kepengikutan berdasarkan peraturan terdapat pada masyarakat modern, dimana orang-orang mengelompokkan diri untuk mencapai suatu tujuan berdasarkan kepentingan yang sama secara bersama-sama.

Dari 5 (lima) klasifikasi kepengikutan diatas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kepengikutan itu bisa timbul dengan sendirinya tanpa adanya persuasi (kharismatik) atau juga bisa muncul dengan adanya paksaan.

Diantara para pemimpin kharismatis di dunia, Nabi Muhammad SAW  dinilai sebagai pemimpin kharismatis yang tidak ada tandingannya. Dalam bukunya yang berjudul “Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah”, Michael H. Hart, yang diterjemahkan oleh H. Mahbub Djunaedi, mencantumkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh nomor satu. Hart beralasan bahwa : “Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.

Berasal usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya tetap kuat dan mendalam serta berakar.”

Orang yang digerakkan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh pemimpin dinamakan pengikut. Pengikut adalah orang yang menuruti garis perintah atau garis kerja yang mengaturnya. Macam-macam kepengikutan:

Kepengikutan karena naluri dan nafsu/keinginan, Kepengikutan model ini dilihat dimana seorang pemimpin dapat dimenggerakkan sekelompok orang dengan memberikan kepuasan pada kebutuhan hidup tertentu yang dapat bersifat individual dan sosial. Kepengikutan model ini melenyapkan kepribadian individu dan kemudian menjadi kepribadian massa. Sehingga pemimpinya dikatakan pemimpin massa.

Kepengikutan karena tradisi atau adat, Kepengikutan karena tradisi atau adat pada umumnya disebabkan oleh dua hal, pertama yaitu ketaatan dalam menjalankan aturan-aturan yang berlaku dengan konsekuensi sanksi-sanksi yang ada.  Kedua karena sayang dan setia pada tradisi atau adat nenek moyang.

Kepengikutan karena agama dan budi pekerti, Kepengikutan karena agama dan budi pekerti lebih banyak didorong oleh suara hati nurani untuk membedakan yang baik dan yang tidak baik, karena hati nurani bersumber pada agama yang membawa kita ke jalan yang baik.

Kepengikutan karena Rasio, Seorang mengikuti pemimpin karena telah dipikirkan masak-masak bahwa ia mendapatkan keuntungan, baik keuntungan yang bersifat material, maupun keuntungan yang bersifat spiritual. Untuk dapat menggerakkan orang atau golongan rasional/golongan intelektual diperlukan metode yang rasional.

f. Kepemimpinan Dalam Kelompok dan Tim Kerja

Berkaitan dengan hal-hal yang terkait dengan kelompok yang mencakup apa yang disebut dengan 1) ukuran kelompok ; 2) tingkatan pengembangan kelompok ; 3) norma-norma kelompok 4) jaringan-jaringan komunikasi dalam kelompok ; 5) perhubungan kelompok.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka sebaiknya kita mulai dari pemahaman atas difinisi kelompok. Kelompok adalah dapat dipikirkan sebagai dua orang atau lebih yang saling berintraksi satu sama lainnya dan setiap orang satu sama lain dapat saling mempengaruhi, sehingga dalam studi mengenai kepemimpinan kita temukan tiga aspek yaitu 1) terkait dengan difinisi kedalam konsep korporasi yang mengungkapkan pengruh diantara pemimpin dan pengikut ; 2) anggota kelompok saling berintraksi dan mempengaruhi ; 3) difinisi yang tidak perlu memperhatikan keterbatasan individu dalam satu kelompok, dimana setiap orang dapat saja mlik klompok yang terkait dalam pengelompokan kegiatan..

Dari uraian diatas, harus dipahami pula perbedaan pemahaman arti kelompok dengan tim. Setiap orang tahu apa itu tim, tapi perlu diingat bahwa membentuk tim tidak sekadar hanya dalam mengumpulkan orang karena dapat dibentuk berdasarkan fungsi, beban kerja, suasana keharmonisan, penunjukan, secara sukarela, buku pedoman. Jadi membentuk tim bukan sekedar membagi tugas melainkan jenis peran di dalam tim yang biasa disebut dengan driver , planner, enabler , exec dan controller. Jadi tim adalah sekelompok orang yang bekerja sama sesuai dengan peran yang dibutuhkan karena sifat spesialisasinya.

Dengan demikian membangun tim dan karetristik tim yang benar-benar mampu bekerja dapat dipahami melalui model kepemimpinan kedalam tim yang efektif yang disebut dengan „Systems Approach to Teams“ (input – proses – outputs).

KESIMPULAN

Bertitik dari pemahaman mengenai konsepsi kepemimpinan sebagai suatu proses bukan yang berkaitan dengan posisi, maka untuk dapat mengaktualisasi kedalam pola pikir sebagai pemicu bersikap dan berperilaku untuk terus menumbuh kembangkan apa yang disebut dengan „efektivitas pribadi“ artinya suatu kerangka untuk membangun konsep diri yang berkelanjutan melalui suatu proses pemberdayaan pribadi dalam usaha untuk menempatkan pada posisi daur hidup yang prima untuk mencapai keunggulan, keseimbangan dan pembaharuan.

Oleh karena itu dibutuhkan pemikiran yang terfokuskan untuk mendalami apa yang disebut pemimpin, pengikut dan situasi sebagai faktor penentu untuk mewujudkan kepemimpinan yang efektif.

Jadi dengan mendalami faktor pemimpin, pengikut dan situasi berarti pula sebagai langkah untuk meningkatkan efektivitas pribadi dari impian menjadi satu kenyataan sebagai aktualisasi diri kedalam Kredibilitas (bagaimana pemimpin mendapatkan kepercayaan dan keyakinan dari stakeholders), Kebiasaan (mendewasakan intelektual, emosional, sosial dan rohaniah untuk mencoba mencari arti dalam hidup ini dan mengkomunikasikannya hasil guna yang dicapai kepada orang lain secara prakmatis) dan Proaktivitas (kemampuan menganalisa dan diagnosis terhadap persoalan potensial untuk menghindari masalah dan mengidentifikasi peluang)

Dengan demikian untuk memahami konsepsi kepemimpinan sebagai proses membutuhkan pemahaman peminpin, pengikut dan situasi dalam rangka meningkatkan efektivitas pribadi melalui usaha membangun kredibilitas, kebiasaan dan proaktivitas dalam usaha mewujudkan kepemimpinan yang efektif sebagai suatu pemahaman kedalam konsepsi proses bukan posisi.

DAFTAR PUSTAKA

ü Bernardin, H.J and Russel, JEA. ( 1993 ). Human Resources Management, New York: Mc. Graw Hill, Inc.

ü Bernardine R. Wirjana, M.S.W. & Prof. Dr. Susilo Supardo, M.Hum. 2002, Kepemimpinan, (Dasar-dasar dan Pengembangannya) ANDI, Yogyakarta.

ü Cascio, WF. (1998). Managing Human Resources, New York : Mc.Graw Hill, Inc.

ü Dessler Garry. (1997). Managing Human Resources, New York.: Mc.Graw Hill, Inc.

ü Hadari Nawawi dan M. Martini Hadari, 1995, Kepemimpinan Yang Efektif, UGM. Cet. II, Yogyakarta.

ü Heijrachman R & Suad Husnan. (1997). Manajemen Personalia. Yogyakarta.

ü .I. G. Wursanto. (1989). Manajemen Kepegawaian, Yogyakarta, Kanisius

ü Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta; Balai Pustaka,1988.

ü Milkovich. G.T. and Boudreau J.W. (1997). Human Resources Management, Boston. Irwin, Inc

ü Madhi, Jamal, Menjadi Pemimpin Yang Efektif dan Berpengaruh, Bandung; Syaamil Cipta Media, 2001

ü Siagian, Sondang P., Teori dan Praktek Kepemimpinan, Jakarta; Rineka Cipta, 1991.

ü Sujak, Agi, Kepemimpinan Manajer; Eksistensinya Dalam Prilaku Organisasi, Jakarta; Rajawali 1990.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.